Sembilan tahun mungkin terdengar singkat bagi sebagian orang. Namun bagi Daar El Waseela Kairo, sembilan tahun adalah perjalanan panjang penuh doa, peluh, ujian, dan keajaiban yang Allah hadirkan satu per satu. Dan untuk pertama kalinya sejak berdiri, perjalanan itu dirayakan melalui Peringatan Harlah Perdana, bertepatan dengan Wisuda Akbar 2025 yang digelar pada 15 November 2025 di Qoah Burj Nadi Sikkah, Kairo.

Sejak pagi, ruangan wisuda dipenuhi suasana hangat, campuran antara haru, syukur, dan bangga. Para masyaikh, dewan pembina, para wali santri, hingga lulusan berbaur dalam satu momen yang tidak hanya merayakan kelulusan, tetapi juga merayakan lahirnya sebuah lembaga yang telah menjadi rumah bagi ribuan pencari ilmu selama hampir satu dekade.

“Saya bangga menjadi saksi awal berdirinya lembaga ini”

Dalam sambutannya, Syekh Toha Ali El Sawwa menyampaikan rasa hormat dan kedekatannya dengan Daar El Waseela.
“Saya merasa terhormat dan bangga menjadi salah satu saksi penting awal pendirian Daar El-Waseela,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu memantulkan perjalanan panjang di balik layar, bagaimana lembaga ini tumbuh dari keyakinan, dari mimpi tentang sebuah tempat yang memadukan Al-Qur’an, ilmu syariat, dan bahasa Arab dalam satu tarbiyah yang utuh.

Simbol Syukur: Tumpeng yang Menyimpan Cerita

Puncak harlah dirayakan dengan pemotongan tumpeng bersama oleh para masyaikh dan Dewan Pembina. Bukan sekadar seremoni, tetapi simbol syukur; bahwa setiap capaian, setiap hafalan yang lahir, setiap anak yang terselamatkan dari gelapnya zaman semuanya adalah karunia Allah yang tak pernah putus.

Di balik tumpeng itu tersimpan cerita, tentang guru yang mengajar hingga larut malam, tentang santri yang menangis bangga saat menamatkan hafalan, tentang pengurus yang bekerja dalam diam, dan tentang orang tua yang berdoa di tanah air untuk masa depan anaknya.

Komitmen yang Tidak Pernah Pudar

Sejak awal pendirian hingga hari ini, Daar El Waseela tetap setia pada misinya: menyediakan pendidikan berbasis Al-Qur’an, ilmu syariat, dan bahasa Arab. Komitmen itu tidak hanya tertulis di visi misi, tetapi hadir nyata melalui berbagai program unggulan:

Asrama Tahfiz Mukim, tempat para penghafal Qur’an ditempa dengan adab dan kedisiplinan.

Daurah Tajwid & Tahsin Bersanad, yang menghubungkan santri dengan mata rantai para ulama qiraat.

Karantina Hafalan Intensif 40 Hari (Summer Holy Days), program yang menjadi titik balik banyak santri dalam memperkuat hafalan mereka.

Dan berbagai program pembinaan lain yang terus berkembang mengikuti kebutuhan zaman.

“Rintangan itu pasti terlewati”

Dalam sambutannya yang penuh keteduhan, Ustadz Imam Almarghany, Lc. MA mengingatkan bahwa perjalanan sembilan tahun ini tidak selalu mudah.
“Banyak sekali tantangan yang dihadapi selama proses pendirian hingga Daar El-Waseela bertahan 9 tahun ini. Tetapi karena kita yakin usaha ini akan menghadirkan generasi yang menjadi solusi umat, rintangan apa pun pasti terlewati.”

Kata-kata beliau menggambarkan esensi dari Daar El Waseela, sebuah lembaga yang dibangun dengan keyakinan, dipertahankan dengan kesabaran, dan tumbuh dengan pengorbanan.

Lebih Dari Sekadar Lembaga, DW adalah Keluarga

Harlah perdana ini menjadi pengingat bahwa Daar El Waseela bukan hanya tempat belajar. Ia adalah rumah. Tempat di mana para santri belajar menghafal, tetapi juga belajar menjadi manusia; tempat di mana para guru mengajar, tetapi juga merawat; tempat di mana setiap orang yang pernah terlibat meninggalkan jejak doa dan kebaikan.

Sembilan tahun telah terlewati. Masa depan masih panjang.
Dan selama ruh Al-Qur’an menjadi nafasnya, Daar El Waseela akan terus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga membawa cahaya bagi umat.

Leave a comment