Pagi 15 November 2025 datang dengan cahaya yang tenang namun penuh makna. Di Qoah Burj Nadi Sikkah, Kairo, para santri, masyaikh, dan seluruh keluarga besar Daar El Waseela berkumpul dalam satu momentum besar: Wisuda Akbar 2025, sebuah perayaan ilmu yang berlangsung dari pukul sembilan pagi hingga tiga sore.
Tema tahun ini, “بوسيلة القرآن نزهر المستقبل”, Dengan wasilah Al-Azhar, kita sinari masa depan, bukan hanya menjadi motto, tetapi turut menjadi dasar yang menghidupkan seluruh rangkaian acara. Tema ini menggambarkan harapan bahwa ilmu yang bersambung pada sanad Al-Azhar akan menumbuhkan generasi yang bercahaya bagi umat.
Sehari Penuh Cahaya Ilmu
Wisuda Akbar 2025 tidak sekadar menjadi acara penyerahan sertifikat, tetapi juga perjalanan ruhani dan selebrasi keteguhan para pencari ilmu yang bertahun-tahun berjuang dalam senyap. Setiap sesi disusun dengan matang untuk menghadirkan kedalaman makna dan pengalaman yang berkesan.
1. Peringatan Harlah Perdana Daar El Waseela
Acara dibuka dengan momen bersejarah: peringatan harlah perdana Daar El Waseela yang kini memasuki tahun ke-9. Pemotongan tumpeng oleh Ust. Kholid Syaiful Haq, Lc., yang didampingi oleh Dewan Pembina dan para masyaikh, menjadi simbol syukur atas perjalanan panjang lembaga yang tumbuh dari mimpi sederhana hingga kini menaungi ratusan santri pencari cahaya Al-Qur’an.

2. Takrim Wisudawan Program Tahfiz Al-Qur’an 30 Juz

Bagian ini selalu menjadi puncak haru dalam setiap gelaran wisuda. Tahun ini, sebanyak 27 santri berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz Al-Qur’an dengan komposisi yang sangat membanggakan. Mereka terdiri dari para santri banat mukim yang menjadi jumlah terbesar, disusul santri banat SHD, kemudian beberapa santri banin mukim dan banin non-mukim. Kehadiran para pembimbing tahfiz yang menyertai mereka dalam prosesi takrim menjadi saksi betapa setiap hafalan adalah buah dari doa, kedisiplinan, dan ketekunan yang panjang.
3. Wisuda Program Tahsin Bersanad

Program tahsin yang menjadi salah satu unggulan Daar El Waseela juga mewisuda 29 santri pada tahun ini. Mayoritas berasal dari kalangan banat, sementara sisanya adalah banin yang menuntaskan talaqqi tahsin mereka. Di bawah bimbingan Syekh Ahmad Asy-Syarqowy, para santri menerima ijazah dan penghargaan sebagai apresiasi atas kesungguhan mereka memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai standar tinggi para masyaikh.
4. Wisuda Tajwid Bersanad
Pada sesi berikutnya, wisuda Tajwid Bersanad diselenggarakan dengan dua jalur pengajaran.
a. Tajwid Syekh Mahmud An-Nazlawy

Pembelajaran bersama Syekh Mahmud An-Nazlawy melahirkan 16 wisudawan, yang sebagian besar berasal dari banat dengan beberapa santri banin. Mereka menyelesaikan pembelajaran tajwid klasik dengan pemahaman mendalam mengenai makhraj dan hukum-hukum bacaan.
b. Tajwid Ust. Dzaky El-Farouq
Pengajaran Ust. Dzaky El-Farouq menghasilkan 27 wisudawan, hampir seluruhnya dari kalangan banat, dengan satu peserta dari banin. Karakter pengajaran yang menekankan kedisiplinan dan ketelitian menjadikan para santri di jalur ini memiliki bacaan yang fasih dan penuh adab.
5. Wisuda Daurah Ilmu Syar’i: Mantiq & Mawaris

Daurah ilmu syar’i tahun ini kembali mewarnai rangkaian wisuda.
a. Ilmu Mantiq (Logika)
Program Mantiq yang dibimbing oleh Mohammad Iqbal Marzuki, Lc., meluluskan 6 santri. Sebagian besar berasal dari banat, ditambah beberapa santri banin yang menyelesaikan kajian logika klasik dan ushuliyyah hingga mampu berpikir sistematis dan terstruktur.
b. Ilmu Mawaris
Dalam bidang ilmu waris Islam, 5 santri dinyatakan lulus setelah menempuh pembelajaran bersama Azhari Novrizal Pane, Lc. Mereka berasal dari kalangan banat dan banin secara seimbang, mempelajari kaidah waris dan perhitungannya sebagai bekal amanah di masyarakat.
6. Penyerahan Penghargaan dan Apresiasi Santri
Sebagai penutup, diberikan apresiasi khusus kepada santri-santri berprestasi. Momen ini memberikan inspirasi bagi seluruh hadirin bahwa perjalanan menuntut ilmu adalah perjalanan panjang yang memerlukan kesabaran, komitmen, dan ketekunan.
Cerita di Balik Layar

Ketua Panitia, Hamdhika Taufiqurrahman, membagikan kisah di balik penyelenggaraan acara yang penuh dinamika. Ia mengatakan bahwa tantangan terbesar justru muncul pada tahap awal, yakni menentukan nama acara. “Di awal itu yang kerasa agak susah malah penentuan nama acara. Kan ada harlah juga ya. Rapat pertama tanggal 5 itu bahas nama. Dari sekian banyak nama akhirnya muncul nama yang sekarang dipakai,” ujarnya mengingat proses diskusi yang panjang agar nama tersebut benar-benar mencerminkan ruh lembaga.
Tentang konsep harlah, ia menambahkan, “Di awal ane hanya kepikiran buat potong tumpeng. Setelah beberapa kali rapat juga akhirnya ya potong tumpeng aja. Ust Imam sendiri gak ada tuntutan apa-apa.”
Ada pula dinamika internal, seperti keinginan untuk mengadakan berbagai lomba. Namun setelah mempertimbangkan banyak hal, Hamdhika menilai bahwa hal tersebut belum memungkinkan. “Ngadain lomba gak semudah itu. Dan ust Imam juga gak ada tuntutan. Beliau hanya mengisyaratkan untuk mempublikasikan perjalanan DW, prestasi santri, dst.” Keputusan tersebut akhirnya membawa panitia pada ide pembuatan video dokumenter perjalanan Daar El Waseela, yang menjadi karya penting dalam acara wisuda tahun ini.
Hamdhika menutup refleksinya dengan kalimat yang sangat menyentuh:
“Dalam perjalanannya pasti banyak sekali rintangan yg dihadapi. Tapi alhamdulillah ana merasakan betapa Allah banyak memberikan kemudahan.”
Cerita ini membuktikan bahwa di balik gemerlap panggung wisuda, ada kerja keras yang tak terlihat, kerja yang penuh kesabaran, strategi, pengorbanan, dan doa yang tulus.


Wisuda Akbar 2025 menjadi bukti bahwa setiap huruf yang dibaca, setiap ayat yang dihafal, dan setiap pelajaran mantiq serta mawaris yang dipahami adalah investasi masa depan. Dengan cahaya Al-Qur’an, Daar El Waseela terus menumbuhkan generasi yang cerdas, berakhlak, dan siap menjadi penerang umat.
بوسيلة القرآن نزهر المستقبل
“Bersama Al-Azhar, mari menyinari masa depan.”